CERPEN #2

MORTALITY

“Apa kau tidak mendengar yang barusan aku katakan, Belena?” tanya Malum. Dia adalah perampok dan penguasa terjahat di China, yang terkenal membunuh sekitar 142 orang dalam empat tahun terakhir. “Jawab pertanyaanku, Belena!”

Teriakan Malum sangat kuat, membuat jantung Belena hampir copot. Kali pertamanya Belena bertemu manusia kejam. Malum sekarang bertelanjang dada, memakai celana jin, dan tanpa sepatu. Rambutnya tidak rapi seolah baru bangun tidur. Matanya semerah kejahatannya.

“Aku tidak tau, Tuan.” Belena adalah anak satu-satunya dari ibunya, tapi ayahnya meninggalkan karena cabukkan Malum. Gadis itu memalingkan wajahnya pada ibunya, Adara, yang sedang terikat di sebuah batang pohon di ujung jurang. “Tolong lepaskan ibu saya, Tuan Malum. Saya tidak bisa menyerahkan itu pada Tuan.”

Malum maju tiga langkah. Sekarang Belena dan dia berhadapan. Cambuk sepanjang tiga meter ada di tangan Malum. “Tolong berikan kucing peliharaanmu padaku! Atau, ibumu akan mati di tangan seekor makhluk.”

Belena ketakutan mendengar  suaranya yang berat itu. Dia mundur menjauhi muka Malum. “Aku tidak bisa melakukan ini. Aku akan memberi Tuan harta yang kami miliki.”

Malum tidak menjawab, tapi matanya membesar. Diayunkannya cambuk itu, kemudian diputar-putar ke atas. Seluruh orang di sekeliling mereka ketakutan. Ada yang menutup matanya, membelakangi kejadian, dan menangis. Cambuk itu berhasil memukul kaki Belena. Malum kembali mengayunkan cambuk itu sehingga membuat Belena terjatuh dari berdirinya.

Stop Malum. STOP!” Adara berteriak, membuat Malum menoleh ke arahnya. “Jangan kau perlakukan anakku begitu. Cambuk diriku sekarang!”

“Oh, oh, oh, Adara. Ya, mulutmu seperti nasibmu yang tidak pantas digunakan di dunia ini. Kucingmu yang bernama Fortuna itu harus berada di tanganku sekarang. Berikan sejuta keberuntungan hewan itu padaku, Sayang. Kau bakal mati jika tidak memberikan kucing itu.”

Belena teringat peristiwanya di sekolah ketika dia dipukul seorang guru killer menggunakan penggaris plastik, tapi rasanya tidak seperti yang dirasakannya saat ini.

Belena berusaha berdiri dengan tidak seimbang. Lututnya terlihat tidak sejajar. Darah bercucuran dan berlomba-lomba untuk keluar dari bekas cambuk tadi. Belena kembali terduduk di atas tanah. Dia menahan darah itu keluar.

“Sudah puas, Belena?” tanya Malum. Dia berkata seperti seorang hakim. “Ayo berdiri semampu kau! Tunjukkan ekspresi marahmu! Come on!”

“Enyahlah kau dari sini!” pekik Belena. Dia berusaha suaranya terdengar tegas. “Kau sungguh tidak punya norma! Dasar laki-laki busuk!”

“Oh, suaramu melengking seperti keledai.” Malum tersenyum lebar, giginya yang berwarna kuning terlihat jorok. “Hei, kau wanita yang ada di belakang Belena.” Wanita itu maju, kepalanya menatap ke bawah. “Nah, sekarang kau ambil pedang perang di tempatnya itu, kemudian berikan kepada anak yang busuk ini.”

Wanita itu menjalankan perintahnya. Pedang itu dibawa seperti membawa bendera saat upacara. Sekarang pedang itu berada di tangan Belena. Dan dia berkata, “Terima kasih.” Kemudian menatap tajam ke Malum. “Mengapa kau begitu baik memberikan aku pedang? Bunuh saja aku dan ibuku sekarang!”

“Tidak perlu, Belena. Aku ingin melihatmu menyerangku sekarang,” katanya. “Lakukanlah!”

“Tidak!” Belena berusaha berdiri. “Kau yang maju ke sini. Jantungmu akan terbelah, Malum!”

“Itu tidak akan terjadi, Belena.” Malum mengacungkan tangan kanannya, kelima jari digenggamnya. “Kau sudah menolak tawaranku. Dalam hitungan dari satu sampai sepuluh, belum juga kau mengambil Fortuna untuk diberikan kepadaku, ibumu akan dibunuh oleh Kelpie.”

Malun mulai berkata angka satu. Ketika memulai, satu jari diacungkannya. Belena panik. Dia memerintahkan seorang wanita yang tidak dia kenal untuk mengambil kucing itu, tapi wanita itu tidak tahu kucing itu berada. Belena semakin panik ketika hitungan mencapai delapan. Mata Belena tidak tahan melihat sesuatu yang berguncang di dekat ibunya. Kini, hitungan sudah sampai ke angka sepuluh. Dan dia berteriak, “JANGAN LAKUKAN MALUM! AKU MOHON!”

Malum menghiraukannya. Seekor Kelpies keluar dari dalam air. Dia terbang menuju pinggir jurang. Kaki kudanya hanya dua. Matanya semerah tomat. Giginya seputih awan, tapi hidungnya sebesar telur ayam. Tubuhnya berwarna hijau dan ditumbuhi akar-akar pohon yang halus. Dia tidak memiliki ekor, tapi bagian pantatnya sepenuhnya akar-akar seperti rambut Medusa. Napas Kelpie itu terus berhembus, seperti air di termos yang telah masak.

Kelpie itu berlari sangat kencang menuju Adara. Bunyi dua kakinya itu membuat tanah di sekeliling bergetar. Akar-akar di pantatnya terus menari-nari. Ketika hampir dekat dengan Adara, Belena berteriak sangat kencang dan kembali melarang Malum melakukan perbuatan tersebut. Tapi itu terlambat, karena Kelpie itu mengarahkan akar-akar di pantatnya ke hadapan Adara. Adara terlilit akar-akar itu. Lilitannya sangat kuat, seperti lilitan ular. Alih-alih akar-akar itu bertambah panjang, terus membungkus seluruh tubuh Adara.

“Hentikan Malum!” pekik Belena, dia terus menangis.

Kelpie itu berhenti bergerak, begitu juga dengan Adara. Kelpie berteriak seperti teriakan kuda. Akar-akar itu dilepaskannya dari tubuh Adara. Belena tidak yakin apa yang dilihatnya: ibunya terpotong-potong menjadi beberapa bagian dan darah langsung membasahi tanah. Belena menangis sekuat mungkin.

Dia berusaha berdiri dan itu berhasil. Belena berlari terseok-seok ke arah Malum. Malum sadar. Dia langsung mengayunkan pedang ke arah Malum. Tapi itu mustahil karena Belena langsung jatuh ketika tersandung batu besar. Sebelum Belena mengangkat kepala menghadap ke wajah Malum, pedang tersebut diambilnya. Bunyi udara bergesekan dengan pedang terdengar. Alih-alih pedang itu berhasil tertancap di dada kanan Belena. Seluruh orang di sekeliling berteriak sangat kencang dan menangis.

“Siapa selanjutnya?” Malum menawarkan. Dia lalu menatap Kelpie. “Terima kasih. Kelpie, kau sudah membantuku. Nah, sekarang cari kucing bernama Fortuna di sini.”

Kelpie berlari sangat kencang menuju lorong gelap. Kurang dari lima menit, dia kembali sambil membawa seekor kucing berwarna kuning keemasan. Kucing itu disangkutkan pada ekornya. Kemudian, kucing itu diberikan pada Malum. Dan Malum berkata, “Terima kasih atas perhatian kalian. Nah, jangan lupa kubur jasad kedua orang ini. Sampai jumpa.”

SELESAI

To: @KampusFiksi

#CERPEN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s