CERPEN #3

THE DEBATE

Tebak apa benda yang sedang saya tulis pada artikel Cerpen kali ini, ya! Selamat membaca!

Benda dengan nama Bulat Hijau itu berhasil terjun ke sebuah bantal berwarna biru. Benda itu berhasil melantun sekali saja seolah dia sedang berada di jelly super besar.

“Hijau, generasi Benda Tabung sudah keluar dari kamar orangtua pemilik rumah ini, sedangkan generasi Persegi sudah keluar dari kamar anak pertamanya orangtua tersebut,” beritahu Bulat Merah. “Nah, hari sudah larut malam, ayo pergi dari sini menuju tempat perdebatan.”

“Apa kau tidak merasa kesakitan ketika terjun, Hijau?” tanya Bulat Biru yang memiliki ukuran dan bentuk yang sama dengan si Bulat Hijau, tapi yang membedakannya adalah gambar tubuh dalamnya. “Nah, apa kau tidak merasa kesakitan, Hijau?”

“Bisakah kau diam? Jangan nyenyeh jadi sekelompok benda mati!” protes Benda Hijau. “Kalau kau terus begitu, bisa jadi makhluk hidup tahu kalau kau memiliki sikap itu …”

“Terus?” tanya Bulat Merah sekaligus memotong.

Mereka bertiga—Bulat Hijau, Biru, dan Merahberjalan keluar dari sebuah kamar anak kecil seorang makhluk hidup. Mereka berjalan tidak menggunakan kaki, melainkan berguling di tanah. Ketika mereka hampir mencapai pintu masuk ke kamar tersebut, Bulat Hijau berperi, “Nah, kau lagi si Bulat Merah. Aku sangat suka dengan kau, tapi terlalu kepo. Ayo cepat, nanti kita terlambat ke tempat perdebatan itu!”

“Hijau, apa kau tahu apa tujuan kita ke tempat yang bernama Lapangan Bundar itu?” tanya Bulat Biru, seolah-olah menganggap Bulat Hijau domot.

“Hmmm ….” Si Bulat Hijau memikirkan jawaban yang tepat, tapi tiba-tiba dia tersentak hebat seolah melihat kilat saat dia bengong. “Aha! Kau kira aku dungu? Hmmm … kita akan membicarakan seluruh kesedihan dan kegembiraan menjadi diri kita selama sehari penuh.”

“Hei, lihat!” pekik Bulat Merah.

Di depan mereka ada Lapangan Bundar yang dikatakan Bulat Biru tadi. Lapangan Bundar tersebut terletak di sebuah tempat mainan anak kecil untuk meletakkan pasir putih. Lapangan Bundar itu berada di sebuah ruang tamu yang berada dalam sebuah rumah makhluk hidup. Lapangan itu banyak terdapat beberapa benda-benda mati yang aneh—Bulat Merah tidak merasa dirinya begitu. Lapangan Bundar itu terbagi-bagi menjadi tiga tempat duduk. Tempat duduk pertama diisi oleh benda berbentuk tabung, sedangkan tempat duduk kedua diisi oleh benda berbentuk persegi, dan tempat duduk ketiga diisi oleh mereka. Yang membuat aneh: seluruh benda tersebut hanya terdiri atas warna merah, hijau, dan biru.

“Selamat datang, Benda Bulat!” seru Tabung Merah.

“Halo, Tabung Merah!” seru Benda Hijau. “Apa kau sehat-sehat saja sehari penuh kemarin?”

“Wah, kami hampir tidak diperhatikan,” kata tiga Benda Tabung yang berbicara bersamaan seolah sedang paduan suara. “Tapi, kalian pasti selalu diperhatikan.”

“Baiklah,” kata Persegi Biru. “Malam ini …. Maksudku, tengah malam ini kita akan memulai seluruh peristiwa yang dialami tiga kelompok. Mari dimulai dengan kelompok yang bernama Benda Tabung.”

Ketiga Benda Tabung berebut untuk siapa yang duluan berbicara. Namun demikian, Tabung Hijau berperi, “Kita mulai dari kebahagian kami. Selama sehari penuh kemarin yang merupakan hari pertama puasa, kami selalu diputar-putar oleh beberapa anak kecil yang tertarik dengan kami. Kami pun merasa senang karena kami masih dianggap berguna.”

“Hmmm … menurutku yang kedua adalah isi yang ada di dalam tubuhku ini sering ditukar dengan warna yang berbeda, tapi aku paling suka dengan warna biru,” kata Tabuh Merah.

Tabung Biru terdiam sejenak sembari menatap bingung ke seluruh hadirin sekitar, tapi akhirnya dia berkata, “Oh, giliranku ternyata. Nah, kalau aku sama seperti mereka berdua, tapi aku sering tidur. Jadi, aku tidak tahu apa yang terjadi.”

Tabung Merah berdiri dari duduknya. Wajahnya mengeluarkan aroma marah. “Perlu kalian ketahui tentang kesedihan sekaligus hal yang membuat kami marah! Apa kalian tidak berpikir kalau generasi kami selalu dihindari seiring berkembangnya teknologi yang semakin canggih? Masalah kami yang pertama: kami tidak pernah diperhatikan sama sekali sejak teknologi yang ‘wow’ itu ditemukan seperti Benda Persegi. Kami pun merasa diri kami seperti sampah. Apa kalian semuanya tidak merasa iba dengan generasi kami? Kalau kalian tidak mendukung, maka sesuai peraturan yang berlaku, kalian boleh membuang kami dari sini atau kami angkat kaki tanpa persetujuan kalian.”

“Bisa diperpendek penjelasan dan emosinya, Tabung Merah?” tanya Persegi Hijau. “Menurutku, generasi Anda tidak dipentingkan sekarang kecuali saat zaman tandun.”

Cahaya lampu berwarna orange itu membuat Lapangan Bundar semakin terang seolah sedang diterangi oleh ribuan kunang-kunang.

“Nah, sekarang giliran generasi Benda Bulat.” Bulat Biru menggaruk kepalanya seolah banyak kutu. “Kalian pasti tidak asing lagi dengan kami. Apa kalian pernah memerhatikan kami yang sering digantung, diletakkan di atas meja, dan bahkan kalau tidak berguna, kami sering diletakkan di gudang? Itu yang tidak kami suka dalam generasi kami.”

Bulat Merah menepuk tangannya, membuat seluruh perhatian mengarah padanya. “Akhirnya kalian melihatku! Generasi Benda Bulat menurutku sangat sering dipakai selain Benda Persegi seperti kalian.” Dia menunjuk tiga Benda Persegi tersebut. “Kelompok kami hanya merasakan kebahagian saat makhluk hidup memerlukan kami jika sedang berkumpul. Selain itu, generasi kami juga dipakai dan dibawa ke mana pun berada—terutama yang suka memakai generasi kami. Nah, yang paling kami benci: kami selalu ditinggal makhluk hidup jika mereka tidak berada di rumah, kantor, atau tempat kami diletakkan.”

Benda Persegi banyak berkata Huuu!!! Benda Bulat pun menahan amarah mereka. Benda Merah tidak ingin generasi mereka lebih buruk dari Benda Tabung, apalagi tidak pernah diperhatikan dan digunakan sama sekali.

Persegi Hijau yang memiliki badan bercahaya itu berdiri dengan sigap. “Kalau kami, ya, wajar saja lebih unggul karena kami adalah teknologi yang lebih maju dari kalian semua.”

“Ya!” Persegi Biru menyetujui. “Kami selalu dibawa kapan pun seolah-olah tubuh kami sudah disihir oleh si pemiliknya. Tapi, kalau kami kehabisan energi, kami tidak dipedulikan. Nah, itu yang membuat aku benci generasi kami, Teman-Teman.” Dia menggosokkan kedua tangannya seolah sedang merasa dingin. “Generasi kami yang memiliki tubuh yang lebar, juga sering ditekan-tekan. Kami kadang merasakan kesakitan.”

“Tapi, nasib generasi Benda Persegi lebih untung dari Benda Tabung dan Bulat,” kata Tabung Biru. “Kami lebih parah dari generasi kalian. Lihatlah diri kalian yang sering dilihat oleh makhluk hidup. Kalian sering dibawa, dijinjing,  dan dipandang ….”

Bulat Merah kembali menepuk tangannya, membuat Tabung Biru berhenti bicara. “Yang kau katakan benar Tabung Biru. Generasi kita berdua—Benda Tabung dan Benda Bulat—kalau ada generasi Benda Persegi, pasti kita sering disingkirkan. Tapi, kalian juga akan tersingkir nantinya.”

Ketiga Benda Persegi berdiri. Persegi hijau pun berperi, “Kami memang begitu walaupun kami sombong. Kami tidak suka dibanding-bandingkan, toh kami yang selalu menang. Kalian tidak ada gunanya!”

“Hei!” seru Bulat Biru. “Jangan pernah merendahkan generasi Bulat dan Tabung! Kalian pasti tidak sadar seiring berjalannya waktu. Benda Persegi akan berkembang menjadi lebih canggih, pasti kalian akan dibuang dan dicampakkan karena kalian sudah kuno!”

“Bah! Apa yang kau tahu tentang kami?” tanya Persegi Merah. “Kalian peramal, ya? Atau, seorang yang banyak mulut?”

“Hei, hei!” pekik Tabung Biru. “Sudah! Sebentar lagi sudah jam tiga dini hari. Para makhluk hidup akan melihat kita sebentar lagi karena mereka memastikan waktu untuk sahur!”

“Nah, ayo pergi ke tempat masing-masing,” kata Bulat Hijau.

“Untuk perdebatan hari ini kita batalkan karena waktu terlalu singkat.” Tabung Biru memutuskan. “Kita lebih mempunyai waktu besok malam saja supaya lebih puas berdebat. Generasi Benda Tabung pasti akan menang!”

“Oke!” seru Bulat Hijau. “Sampai jumpa!”

Mereka bubar dari Lapangan Bundar, tapi kebanyakan mereka membicarakan kejelekan benda bulat alias benda waktu yang lain. Benda waktu itu terdiri atas Benda Tabung seperti jam pasir dan jam air. Benda Bulat seperti jam dinding, dan Benda Persegi seperti jam di dalam handphonegadget, dan sejenisnya.

-SELESAI-

To: @KampusFiksi

#NarasiSemesta

#CERPEN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s