BINGUNG MEMILIH SUDUT PANDANG DALAM CERITA?

Sudut pandang adalah cakupan sudut bidik lensa terhadap gambar atau suatu bacaan — Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

ILUSTRASI
ILUSTRASI

Nah, dari penjelasan dia atas sudah dipastikan sudut pandang sangat diperlukan saat bercerita. Selama saya menulis, sudut pandang yang sering saya pakai adalah yang ketiga, tapi awal-awal menulis memilih sudut pandang pertama. Alasannya, bisa kamu terus baca sampai bawah, ya. Hihihi.

Di artikel atau postingan kali ini—postingan yang sudah menjamur di blog yang lain, tapi menurut saya sangat bermanfaat sepanjang waktu—akan kita bahas sudut pandang yang cocok untuk penulis. Nah, berikut penjelasannya:

Sudut pandang terbagi atas 3, yaitu:

1. Sudut pandang pertama, yang mencakup kata aku, saya, kami, gue, dsb.

2. Sudut pandang kedua, yang mencakup kata kamu, Anda, kau. Biasanya dipakai di buku-buku nonfiksi seperti buku masak, pengetahuan, buku pelajaran, dsb.

3. Sudut pandang ketiga, yang mencakup dia, ia, mereka, dsb.

1. Sudut pandang pertama

Dalam sudut pandang pertama, kamu akan menemukan bahwa kata aku-lah yang paling sering muncul di narasi cerita. Sudut pandang ini bisa dikatakan paling banyak digunakan seorang penulis pemula, terutama perempuan.

  • Kelebihannya:

a. Tokoh ‘aku’ membuat pembaca bisa mengetahui dan puas dengan apa yang dipikirkan tokoh ‘aku’ tersebut.

b. Bisa digunakan sebagai kepercayaan jika pembaca tidak terlalu yakin dengan perasaan dari tokoh ‘aku’ tersebut, karena penulis bukalah seorang tokoh ‘aku’, melainkan narator.

c. Pembaca bisa mudah masuk ke dunianya—dunia satu-satunya, yaitu tokoh ‘aku’—sehingga pembaca tidak repot-repot memikirkan bagaimana perasaan tokoh yang lain.

d. Penulisannya lebih ringan dan mudah dipahami pembaca. (Saya jujur, karena membaca karangan Divergent Trilogy, Veronica Roth, membuat saya cepat mengerti ceritanya.)

  • Kelemahannya:

1. Penulis sangat terbatas—sangat terbatas sekali—untuk mengungkapkan hal-hal lain selain tokoh ‘aku’ yang mengalami sehingga tidak bisa memandang nuansa selain tokoh ‘aku’.

2. Terlalu banyak kata ‘aku’ sehingga pembaca kelalapan dan tidak ingat beberapa nama tokoh, walaupun tertera nantinya di beberapa narasi dan dialog.

2. Sudut pandang orang kedua

Nah, ini adalah sudut pandang yang sangat-sangat khusus. Di sini pembaca akan membaca setiap kalimat adalah sebagai dirinya sendiri, atau dengan kata lain si pembacalah yang merasa buku itu yang menceritakan dirinya.

  • Kelebihannya:

1. Penulis akan sangat mudah mudah menceritakan seluruh yang ada dipikirannya, karena sudut pandang ini tidak menyangkut tokoh ‘aku’ ataupun ‘dia’.

2. Segala di luar tokoh ‘kamu’ bisa diumbarkan kepada pembaca.

  • Kelemahannya:

1. Banyak pembaca yang tidak enak dengan sudut pandang ini, karena terlalu memasukkan dan menyamakan perasaan ‘kamu’ dalam cerita sehingga pembaca sering merasa.

2. Jarang digunakan di buku-buku fiksi seperti novel.

3. Sulit diterima jika sudut pandang ini di dalam sebuah novel atau fiksi, karena pembaca kira ia sedang membaca sebuah buku nonfiksi.

3. Sudut pandang ketiga

Sudut pandang ini yang paling saya suka saat bercerita, karena terlihat simple dan asyik. Sebenarnya, sudut pandang ketiga kebanyakan dikatakan untuk penulis pemula, tapi menurut saya tidak.

  • Kelebihan:

1. Pembaca puas dengan apa yang dijabarkan penulis, karena perasaan dan kejadian di luar tokoh utama bisa diketahui pembaca.

2. Penulis cepat menulis setiap narasi maupun dialog, karena tidak bersifat seperti sudut pandang pertama—hanya tokoh aku yang bercerita.

3. Enak dibaca, karena kata ‘aku’ atau ‘kamu’ jarang digunakan sehingga nama dan karakter tokoh dalam cerita mudah diingat pembaca.

4. Penulis bisa membuat masalah lebih mantap—lebih banyak, tapi tetap berhubungan—karena penulis bisa memberitahu masalah lewat beberapa tokoh.

5. Penulis bersifat sebagai pengamat atau mata-mata dari langit, yang memantau aktifitas tokoh-tokoh dalam ceritanya di suatu tempat.

  • Kelemahan:

1. Pembaca tidak bisa merasakan tokoh utamanya kuat-kuat, karena pembaca hanya merasakan adegan-adegan yang terjadi.

2. Nggak tahu lagi. Mentok, loh. Hihihi.

———

Nah, dari penjelasan di atas bisa kamu ambil sudut pandang yang mana saja yang pantas ditempelkan ke ceritamu. Kalau sudut pandang pertama sebagai ‘aku’, maka dari awal sampai akhir jangan pakai saya atau kata lain dari sudut pandang pertama, contoh:

Aku ingin sekali memakan cokelat berlapis-lapis itu, tapi dompetku seperti botol tanpa isi. Bagaimana bisa makanan favoritku itu terbeli. Saya saja pernah mengalami ini sebelumnya, yaitu semenjak saya dan ibuku berada di pedalaman desa, yang tidak memungkinkan untuk membeli makanan ringan kesayangan saya itu.

Aneh, bukan? Nah, jangan terapkan.

Sepertinya sudah  panjang, ya. Semoga bisa diambil ilmunya. Sampai jumpa di postingan atau artikel selanjutnya!

#TIPS

Satu pemikiran pada “BINGUNG MEMILIH SUDUT PANDANG DALAM CERITA?

  1. Gue lebih nyaman make sudut pandang orang ketiga kalo dalam nulis cerita fiksi. Tapi ntah kenapa setelah lama gak nulis cerita fiksi, gue jadi kaku dalam menggunakan sudut pandang orang ketiga. Kalo dicampur sama sudut pandang pertama rada nyambung, tapi gak mungkin juga kan kalo keduanya disatuin. Yang ada nanti pembac malah bingung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s