CARA MENARIK PERHATIAN PEMBACA DI KALIMAT PEMBUKA SEBUAH BAB

Kalimat pembuka adalah kalimat yang pertama kali muncul di paragraf suatu bab untuk memulai sebuah cerita.

Bagian dari novel Rumah di Seribu Ombak, karya Erwin Arnada.
Bagian dari novel Rumah di Seribu Ombak, karya Erwin Arnada.

Kalimat pembuka juga merupakan awal mulanya tatapan mata pembaca ke sebuah bacaan, mengakibatkan apakah pembaca akan tertarik untuk melanjutkan membaca atau tidak. Jika tidak, pasti penulis yang membuat kalimat pembuka atau pertama di karyanya merupakan kalimat yang bosan sekali alias klise.

Ciri-ciri awal kalimat atau kalimat pembuka yang bagus:

a. Menarik atau tidak mainstream.

b. Tidak dimulai dengan aktivitas sehari-hari, seperti bangun tidur, gosok gigi, dan sejenisnya.

c. Terlalu cepat untuk ke adegan selanjutnya. Maksudnya, tidak dijelaskan apa saja yang ada di adegan tersebut, termasuk latar suasananya.

Nah, menurut saya ada beberapa kalimat pembuka yang bisa menarik perhatian pembaca ataupun editor:

1. Dimulai dengan kalimat pertanyaan.

Kalimat pertanyaan sudah pasti menarik seluruh pembaca, yang bukan apalagi dikarenakan membuat mata pembaca melirik ke kalimat selanjutnya. Berikut contohnya yang saya karang sendiri:

Apa mungkin sesuatu di sana akan menampakkan wujudnya?

Gadis bernama Yuni itu begitu teliti menatap sesuatu di depannya, seolah-olah sedang melakukan penelitian di tempat kurang cahaya. Alih-alih mata Yuni semakin sipit menatap itu yang berbentuk bulat besar seperti bola voli berukuran besar, dilengkapi juga dengan bentol-bentol di kedua sisinya.

Namun, akhirnya dia menyadari apa yang ditatapnya tadi: sebuah bandul yang sudah penyok. Gadis itu tak ingin bangun karena ingin sekali melihat bandul itu sampai ke akar-akarnya, tapi alih-alih dia duduk dengan cepat dari tidurnya sembari menatap sekeliling, memastikan apakah bandul tersebut masih ada di sekitarnya.

2. Dimulia dengan tiruan suara atau onomatope.

Nah, cara kedua ini juga menarik perhatian pembaca. Berikut contohnya yang saya karang sendiri:

Gaok … gaok … gaok ….

Suara puluhan gagak berputar-putar di telinga rakyat-rakyat di salah satu perkampungan di Surabaya. Tak disangka bunyinya bertambah bising, disusul dengan bunyi kepakan sayap puluhan gagak yang membuat warga bertambah ketakutan pada sore itu.

Nyaris saja paruh atau kaki puluhan unggas itu menerkam beberapa warga, alih-alih selamat. Namun demikian, gagak-gagak itu berhasil kabur dan terbang menjauh dari sana ketika para warga yang berani untuk mengusir mereka dengan kayu.

3. Pembukaan dengan percakapan.

Pembukaan dengan percakapan. Ya! Tapi, percakapannya mengandung misteri atau teka-teki, artinya tidak klise. Berikut contohnya yang saya ambil dari Cerpen #2:

“Apa kau tidak mendengar yang barusan aku katakan, Belena?” tanya Malum. Dia adalah perampok dan penguasa terjahat di China, yang terkenal membunuh sekitar 142 orang dalam empat tahun terakhir. “Jawab pertanyaanku, Belena!”

Teriakan Malum sangat kuat, membuat jantung Belena hampir copot. Kali pertamanya Belena bertemu manusia kejam. Malum sekarang bertelanjang dada, memakai celana jin, dan tanpa sepatu. Rambutnya tidak rapi seolah baru bangun tidur. Matanya semerah kejahatannya.

4. Dimulai dengan deskripsi tokoh atau tempat dengan teka-teki.

Maksudnya, desktripsi itu mengandung daya tarik bagi pembaca, dengan syarat adanya masalah yang ringan dan tidak klise. Berikut contohnya yang saya karang sendiri:

Sosok itu bertubuh seukuran anjing, namun lebih besar daripada tikus. Matanya berwarna hitam, sedangkan kulitnya berbulu dengan warna kelabu dicampur putih bersih. Empat kakinya melangkah terus- menerus dan begitu cepat dari anak tangga paling atas hingga bawah.

Setiap dia melangkah hingga sampai di depan sebuah nampan di lantai, ekornya terus bergoyang-goyang, dengan warna yang sama dengan tubuhnya. Perutnya kendur karena terus melahirkan kurang lebih dua bulan sekali, tapi dia tak bertemu anak-anaknya hari itu juga karena mereka sedang tidur di dalam sebuah kardus.

Akhirnya, kucing itu memakan sebuah ikan sarden yang masih utuh di nampan itu dengan lahap.

5. Dimulai dengan deskripsi tokoh atau tempat tanpa teka-teki.

Sama seperti cara keempat, tapi tidak membuat pembaca menerka siapa yang dideskripsikan dalam paragraf tersebut. Berikut contohnya yang saya karang sendiri:

Restoran itu berbentuk bundar, tapi bagian belakangnya berbentuk petak. Banyak sekali pasir-pasir melayang di depan pintunya, membuat dua sejoli berjalan begitu romantis menghampirinya. Pintu yang berwarna cokelat dengan kaca bundar di atasnya—pintu tadi—itu langsung dibuka seorang pelayan berjas dan bercelana hitam, dilengkapi baju putih di dalamnya.

Ketika di dalam, restoran begitu ramai, tetapi dua sejoli itu langsung diantarkan seorang pelayan pria yang membawa nampan kosong, menuju sebuah meja dengan dua kursi yang tidak diisi pengunjung.

6. Dibuka dengan perasaan seorang tokoh utama.

Perasaan bisa berupa sedih, gembira, atau panik. Berikut contohnya yang saya ambil dari novel “The Heroes of Olympus: The Mark of Athena”:

Annabeth ingin membenci Roma Baru. Namun, sebagai calon arsitek, mau tak mau dia mengagumi taman berteras, air mancur dan kuil, jalan berubin yang berliku-liku, serta vila putih cemerlang. Sesudah Perang Titan musim panas lalu, dia mendapatkan pekerjaan impiannya, yaitu mendesain ulang istana di Gunung Olympus …. (masih ada lagi, tapi sampai di sini saja karena sudah memenuhi cara keenam.)

7. Dimulai dengan fakta yang menarik.

Fakta berarti harus nyata dan bukan opini, yang turut hadir dalam sebuah karya fiksi. Berikut contohnya yang saya karang sendiri:

Kota ajaib bernama Amaldoft tersebut dipecah menjadi dua bagian, tapi pada bagian pertama lebih banyak memakan tempat sehingga masyarakat di kota sebelah tidak merasakan keadilan. Dua kota itu dipecah karena banyaknya orang sombong ingin jauh dari kalangan miskin, yang diterapkan sejak tahun 1832.

Kota pertama bernama Amaldoft Nomor A, yang diterangi cahaya-cahaya yang besar dan indah, tapi lebih banyak polusi. Tak disangka, para pemerintah dan pejabat tinggi pun juga tinggal di sana.

Namun demikian, kota kedua bernama Amaldoft Nomor B, yang lebih menekankan pada suasana desa yang sejuk. Percuma saja rakyat di kota itu protes ke Amaldoft Nomor A karena tembok setinggi dua puluh meter pasti tak sanggup mereka lalui.

———

Tujuh cara tadi bisa kalian—penulis—manfaatkan ketika ingin memasuki bab baru. Terserah kalian mau memilih cara yang mana, toh juga akan menarik perhatian—atau juga bisa disebut mata—pembaca. Meski begitu, kalian boleh memilih cara yang sama di setiap bab.

Semoga bermanfaat!

#TIPS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s