CERPEN #4

ABRUPT AND HIGH

Air minum plastik berada di tangan kanan Adelaide, lalu gadis itu meneguknya hingga merasa tidak haus lagi, kemudian diberikan kepada Fred, pacarnya. Pria itu langsung menggogoknya hingga habis, kemudian melemparkannya ke tanah.

Sekitar sepuluh menit yang lalu, mereka baru saja mengganti baju. Kini, mereka memakai full body harness, yang merupakan pakaian kebanyakan pemanjat tebing. Tali kernmantle berwarna merah dan kuning sudah terpasang di kedua sejoli tersebut, membuat mereka semakin mantap untuk memanjat.

Adelaide ternyata sudah pernah bertualang bersama Fred selama dua kali untuk memanjat tebing, namun jarak antara petualang pertama ke petualang saat itu juga terlihat begitu jauh karena mereka disibukkan dengan kegiatan masing-masing—pacaran, tugas, dan sebagainya.

Sekarang, tebing yang ada di depan mereka bertiga cukup besar dan berbentuk piramida dengan sisi berantakan. Namun demikian, tebing itu alih-alih terdapat tiga dan ada di laut. Jarak antara satu tebing ke tebing lainnya agak jauh karena dipisah oleh selat yang cukup sempit.

Mereka memilih untuk panjat tebing di sana karena sebelumnya banyak informasi bahwa pemanjat lainnya sering melakukan aktivitas di sana, yang entah untuk kesenangan atau sebagainya.

“Kau duluan,” kata Adelaide, menatap perahu berukuran dua kali lipat dari perahu nelayan, yang merupakan perahu dari penyewa yang berada di tak jauh dari tebing tersebut. “Aku akan menyusulmu, tapi ikatkan taliku lebih kencang di sana—”

“Tidak apa,” kata Ferd sembari memutarkan mata. “Aku akan ke sana, lalu ketika kau sudah bersamaku, kita akan berfoto untuk dipajang di kantor ayahku.”

“Baiklah!” Adelaide berseru, namun tampak kekhawatiran muncul di wajahnya karena takut menaiki tebing yang jauh lebih tinggi dan menakutkan daripada tebing yang dia naiki sebelumnya. “Ayo.”

Sepertinya peralatan panjat tebing milik Ferd sudah lengkap dan mantap untuk menaiki berbagai macam rintangan di tebing tersebut, yang terlihat dari keberania dan kelincahannya. Pria itu menaikinya hingga ke atas seraya membawa tali yang mengikat Adelaide.

“Hati-hati!” pekik Adelaide, kedua tangannya berada di mulut sehingga mulutnya seperti disembunyikan.

Ferd tidak menoleh ke belakang, lalu berteriak, “Tenang saja! Aku akan selamat!”

Alih-alih Ferd baru saja sampai di atas tebing, yang ternyata terdapat tanah berbatu-batu dan tidak datar. “Ayo, Adelaide! Tali kau sudah kupasangkan.”

Pria itu memang mengikatkan tali tersebut di sebuah batang pohon beberapa menit yang lalu. Ketika Ferd melirik ke bawah, pacarnya ternyata sudah menaiki tonjolan-tonjolan batu—tonjolan yang juga dipijak Ferd tadi untuk sampai ke atas.

Adelaide tetap percaya diri untuk menyusul Ferd di sana. Helm, tali pengikat, sepatu panjat, sarung tangan, serta kantung kapur sepertinya sudah pas untuk dijadikan peralatan panjat tebing baginya. Gadis itu menaiki berbagai macam bentuk tonjolan batu—ada yang berukuran besar dan sedang.

Rasanya naik tebing yang tinggi dan lumayan curam itu seperti menaiki papan seluncur sewaktu TK—seperti kali pertamanya dia waktu TK coba-coba untuk menaikinya. Jantungnya berdegup kencang, pertanda dia panik dan harus hati-hati serta teliti untuk menyusul Fred.

Matanya tidak berani melirik ke bawah, namun dia memandang sesekali di antara kedua kakinya. Ternyata, tanah sudah begitu jauh dari pandangannya. Itulah yang mengingatkannya pada panjat tebing pertamanya, namun kali ini lebih suram—suram untuk pemanjat tebing yang pertama kali mencoba, tapi dia tidak.

Ketika Adelaide meraih dan menggenggam salah satu tonjolan batu, yang diikuti kaki kanannya yang menginjak tonjolan batu lainnya, tak disangka batu yang digenggamnya itu hancur dan jatuh ke tanah. Gadis itu dengan cepat mengenggam tonjolan batu lainnya. Kalau dia jadi tonjolan batu yang hancur tadi, bisa-bisa dia tak lagi mendapatkan kesempatan untuk panjat tebing.

Gadis itu melirik ke atas: Fred sedang melambaikan tangan sembari berseru, “Aku akan selalu menjagamu! Jangan khawatir, Sayang!”

“Tenang saja!” seru Adelaide, berharap suaranya terdengar keras.

Saat kaki kirinya menginjak tonjolan batu yang lain—tonjolan yang lebih tinggi dari tonjolan yang diinjak kaki kanannya tadi—Adelaide ingin mengambil isi dari kantung kapur yang berisi bubuk magnesium itu supaya tangannya tidak mengalami kelembaban, tetapi itu sudah tak ada harapan lagi.

Matanya melalak tajam dan membesar ketika mengetahui seluruh kantung kapurnya kosong, tapi sedang tersebar di bawah sana. Kini, pegangannya tidak stabil sehingga badannya bergoyang-goyang. Fred tidak menyadari itu, tapi Adelaide dengan cepat memekik begitu kuat, seolah-olah sedang bertemu hantu.

Pria itu menoleh dengan cepat ke bawah, tetapi kakinya malah terpeleset ke bagian tebing yang curam. Adelaide tak tahu harus ke mana, tapi tali yang mengikatnya ternyata diraih oleh Fred, menyebabkan nyawa pria itu terancam. Namun, tangan Fred alih-alih berkeringat sehingga dia mudah saja meluncur perlahan ke bawah.

“Fred!” pekik gadis itu, matanya membesar, diikuti kepanikan luar biasa yang menguasai tubuhnya.

Pria itu berusaha meraih tangan pacarnya hingga berhasil, tapi Adelaide malah merasakan peluh di tangan Fred, menyebabkan tangannya ikut licin. Gadis itu tak peduli seberapa licinkah tangan Fred, namun dia dengan hati-hati memanjat dua tonjolan batu sembari membawa Adelaide dengan hati-hati.

“Eh—”

“Apa—”

“Fred!” pekik Adelaide.

Tak disangka Ferd terjatuh dan terguling di tebing yang curam itu, membuat mata Adelaide membesar, lalu berkaca-kaca. Adelaide baru sadar kalau Fred mengalami hal tersebut dikarenakan dia terlalu ceroboh. Gadis itu tak sanggup untuk melihat Fred sampai ke tanah, tetapi dia menghadap ke dinding tebing. Juga tak terdengar bunyi Fred berteriak beberapa menit kemudian, menyebabkan Adelaide menitikkan air mata.

“Adelaide!” pekik Fred, tak disangka pekikan itu muncul juga. “Mengapa kau begitu lama berdiam diri di sana? Aku memanggilmu dari tadi!”

“Tidak apa!” serunya. “Aku hanya mengatur napas.” Dia berbohong. “Tunggu aku!”

Untung saja itu hanya ilusi, yang ternyata dimulai sejak Fred tergelincir hingga putus jiwa. Namun demikian, dia dengan perlahan menginjak tonjolan-tonjolan batu hingga dekat ke arah Fred, lalu pria itu langsung meraih tangan pacarnya. Keringat membasahi badan mereka berdua sehingga terlihat seperti habis dilanda air bah.

Adelaide tak ingin peristiwa hilangnya kantung kapur itu terjadi lagi, walaupun itu adalah kasus pertamanya kehilangan benda itu. Tak disangka kilatan cahaya dari kamera yang dipegang Ferd membuat gadis itu langsung terkejut dan memekik. Setelah memukul Fred berkali-kali, mereka berdua menikmati foto bersama di atas tebing.

SELESAI

To: @KampusFiksi
#DeskripsiKeringat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s