TITRASI ASAM-BASA—TITRASI

A. Pengertian

titrasiasambasa
PERCOBAAN TITRASI ASAM-BASA (sumber: perpustakaancyber.blogspot.com)

Titrasi pada artikel ini membahas tentang titrasi asam-basa, meskipun ada jenis titrasi lainnya seperti titrasi iodometri, titrasi konduktansi, dsb.

Pengertian titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi atau kadar zat dalam larutan dengan cara mereaksikan larutan tsb dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya, dengan bantuan indikator-indikator yang cocok.

Dalam cara kerja titrasi, dikenal beberapa istilah sebagai berikut.

  1. Titrasi asam kuat-basa kuat = titrasi yang menghasilkan garam dan air melalui reaksi netralisasi
  2. Titran = zat yang menitrasi atau zat yang membantu zat lain untuk diketahui konsentrasinya. Titran selalu diletakkan di biuret atau buret
  3. Titrat = zat yang dititrasi atau zat yang dicari konsentrasinya. Titrat selalu diletakkan di labu erlenmeyer
  4. Titik ekivalen = keadaan ketika pH saat asam dan basa tepat ekivalen (seimbang)
  5. Titik akhir titrasi = keadaan ketika pH indikator berubah warna

B. Perubahan pH titrasi asam-basa

  • pH akan naik ketika suatu larutan asam ditetesi larutan basa
  • pH akan turun ketika suatu larutan basa ditetesi larutan asam
  • Semakin besar pH larutan, kesetimbangan semakin bergeser ke kanan
  • Grafiklah yang menentukan perubahan pH titrasi paling tepat

C. Kurva titrasi asam kuat oleh basa kuat

titrasiakbk
KURVA TITRASI ASAM KUAT OLEH BASA KUAT (sumber: rumuskimia.net)

Pada grafik di samping, ambil contoh 25 mL larutan HNO3 0,1 M dengan 0,1 M larutan NaOH hingga ditetesi sampai 50 mL sedikit demi sedikit. Dari tabel bisa disimpulkan:

  1. Mula-mula pH larutan naik sedikit demi sedikit (tidak terjadi lonjakan), tetapi perubahan yang cukup drastis terjadi di titik ekivalen. Nah, pada saat penambahan larutan NaOH sebesar 25 mL, titik ekivalen tercapai. Kurva tsb memperlihatkan bahwa terjadi perubahan pH dari sekitar 4 hingga mencapai 9,8
  2. pH larutan pada saat asam dan basa tepat habis bereaksi pada saat pH 7 (netral)
  3. Indikator yang cocok pada kurva ini adalah metil merah, bromtimol biru, dan fenolftalein karena mengalami perubahan warna pada sekitar titik ekivalen

D. Kurva titrasi asam lemah oleh basa kuat

titrasialbk
KURVA TITRASI ASAM LEMAH OLEH BASA KUAT (sumber: rumuskimia.net)

Pada kurva titrasi di samping, ambil contoh titrasi larutan HCOOOH 0,1 M dengan larutan NaOH 0,1 M. Pada titrasi ini, perubahan pH paling signifikan terjadi antara 7 < pH < 10 karena pengaru penambahan basa kuat kepada asam lemah, yang menyebabkan pH di atas 7. Nah, pada titrasi ini, indikator yang paling tepat adalah fenolftalein.

E. Kurva titrasi basa lemah oleh asam kuat

Pada titrasi ini, titik ekuivalen terjadi pada pH di bawah 7 karena setelah titik ekivalen hanya ada laruan asam kua yang tersisa, sementara larutan basa kuat habis bereaksi.

titrasiblak
KURVA TITRASI BASA LEMAH OLEH ASAM KUAT (sumber: chelseadocument.blogspot.com)

Perubahan pH di sekitar titik ekuivalen berkisar antara 4 < pH < 7. Indikator yang sesuai adalah metil merah, sementara indikator fenolftalein tidak cocok lho karena perubahan warnanya terjadi pada daerah basa sedangkan titik ekivalen belum tercapai.

CONTOH SOAL:

  1. Larutan asam sulfat ditambah tiga tetes fenolftalein kemudian dititrasi dengan larutan natrium hidroksida. Persamaan reaksinya: H2SO4  +  2NaOH  –>  Na2SO4  +  2H2O. Dari pernyataan dan reaksi tersebut, zat yang berfungsi sebagai titran adalah …
    A. Air
    B. Fenlftalein
    C. Asam sulfat
    D. Natrium sulfat
    E. Natrium hidroksida
    –> Penyelesaian:
    Ingat, bahwa titran adalah zat yang menitrasi, yaitu NaOH sementara asam sulfat adalah zat yang dititrasi (titrat)
  2. Penambahan indikator dalam titrasi harus sedikit mungkin. Hal ini disebabkan …
    A. Dapat mengubah pH larutan titrat
    B. Konsentrasi larutan titrat bertambah

    C. Larutan titrat akan langsung berubah warna
    D. Volume larutan titrat tidak boleh bertambah
    E. Mol titrat semakin berkurang dengan penambahan indikator
    –> Penyelesaian:
    Jika penambahan indikator tidak diatur dengan sempurna, maka pengaruhnya ke pH yang tidak stabil. Obsein B dan D tidak ada pengaruhnya karena penambahan indikator untuk menunjukkan hasil titrasi, bukan pengaruh konsentrasi dan volume. Begitu juga obsein C, yang berubah warna adalah kedua zat. Obsein E tidak ada hubungannya dengan mol dan indikator
  3. Penggunaan indikator fenoftalein dalam titrasi basa lemah dengan asam kuat tidak sesuai karena …
    A. pH larutan menjadi semakin besar
    B. Keasaman larutan semakin bertambah
    C. Trayek fenolftalein berada di bawah titik ekuivalen
    D. Titik ekuivalen terjadi di bawah trayek fenolftalein
    E. Fenolftalein tidak dapat menunjukkan perubahan warna
  4. Titik akhir titrasi larutan asam klorida dengan larutan kalium hidroksida dapat diketahui dengan perubahan warna indikator. Indikator yang sesuai untuk titrasi ini di antaranya …
    A. Timol biru
    B. Metil merah
    C. Metil jingga
    D. Bromtimol biru
    E. Alizarin kuning
    –> Penyelesaian:
    HCl (asam klorida) dan NaOH (natrium hidroksida) adalah jenis asam kuat dan basa kuat. Artinya, titrasi ini cocok pada indikator metil merah (4,2 < pH < 6,3), bromtimol biru (6,0 < pH < 7,6), dan fenolftalein (8,3 < pH < 10,00). Nah, pada titrasi asam kuat oleh basa kuat, titik ekivalen terjadi pada pH = 7, artinya indikator yang sesuai dan berubah warna yaitu pada indikator bromtimol biru, menunjukkan perubahan warna dengan rentang 6,0 < pH < 7,6
  5. Titik ekuivalen (ekivalen) titrasi antara CH3COOH 0,1 M dengan KOH 0,1 M dapat ditunjukkan dengan bantuan indikator …
    A. Fenolftalein (pH 8-10)
    B. Metil merah (pH 4-6)
    C. Kresol merah (pH 1-2)
    D. Alizarin kuning (pH 1-2)
    E. Bromtimol biru (pH 6-8)
    –> Penyelesaian:
    Indikator untuk titrasi asam lemah oleh basa kuat paling cocok pada indikator fenolftalein.

LANJUT: PERHITUNGAN TITRASI ASAM-BASA—TITRASI

2 pemikiran pada “TITRASI ASAM-BASA—TITRASI

  1. Stronsium_07

    Reaksi yang dijanlankan dengan titrasi dilakukan dengan cara suatu larutan ditambahkan dari biuret sedikit demi sedikit. Sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi ekuivalen satu sama lain. Pada saat titran yang ditambahkan telah nampak ekuivalen, maka penambahan titrasi harus dihentikan ; saat ini dinamakan titik akhir titrasi. Larutan yang ditambahkan dari biuret disebut TITRAN, sedang larutan yang ditambah titran itu disebut TITRAT. pereaksi telah ekuivalen berarti telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan : titran dan titrat tepat saling menghabiskan (Harjadi, 1985)

    Mohon dikoreksi ya, zat yang selalu diletakkan di biuret adalah titran. Dan zat yang berada di Labu Erlenmeyer disebut titrat.
    Terima kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s