CERPEN #5

DOHONG DAN TINGANG

Sebelum Putri Intan terbangun pulas Minggu pagi itu, dia sudah terlebih dulu mendengar suara jatuhnya kucing di pohon dekat jendela kamarnya. Kucing itu sangat memekakkan telinganya, terlebih lagi suara jatuhnya—debap! Bising sekali!

Gadis itu terbangun pukul lima, dengan lampu kamar menyala. Sama saja menjengkelkannya pagi itu dengan pagi sebelumnya: tidak ada suasana baru di Kerajaan Kalang. Jendela kamarnya memperlihatkan pemandangan desa yang sejuk dan, ya, matahari pun belum terbit.

Kerajaan Kalang terletak di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Namun, tidak seperti biasanya hari itu. Suasananya merupakan suasana pagi paling ribut yang pernah dirasakan Putri Intan di singgasana Kerajaan Kalang. Walaupun suara gemuruh petir di luar sana berbunyi berulang kali—pertanda akan hujan—suara bising di singgasana bahkan merendam suara petir tersebut. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Ada apa ini? Berani-beraninya membangunkan keluarga utama Kerajaan Kalang! Intan membatin.

“Aku jujur, Yang Mulia.” Suara itu sangat miris—suara Dayang Suri. “Silakan saja Yang Mulia tanyakan pada dayang lain.”

Tak tanggung-tanggung singgasana pagi itu. Mata Intan membeliak, sembari membuka pintu sedikit lebih lebar lagi. Tapi … dengan kesalnya sebuah suara berteriak dan menunjuk, “Intan!”

Suara itu membuatnya kesal dan ketakutan. Siapa lagi yang bukan memanggilnya adalah Dayang Suri. Menurutnya, Suri mengetahuinya karena di sekitar kamarnya hanya kamarnya saja yang memancarkan cahaya.

Singgasana sangat ramai, bahkan lebih ramai dari pasar pada pagi hari di Kerajaan Kalang. Semua orang membuka jalan bagi Putri Intan—mereka memojok, tapi menatap aneh kepadanya. Banyak juga yang berbisik-bisik tentang dirinya.

Ayahnya, Raja Kalang, sedang berdiri geram dengan dagu ke atas, kedua tangannya di rapatkan. Dia memakai pakaian serba cokelat. “Kau membuat masalah, Nak!” Suaranya membuat suasana di singgasana tambah suram, yang sebelumnya bunyi guntur terlebih dulu datang. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Intan gugup … takut, tapi dia mencoba berperi, “Mas … masalah apa, Yah? Sungguh, Intan tidak tahu. Sungguh.”

Permaisuri, ibunya, memakai gaunnya berwarna putih panjang. Rambutnya yang lurus dan panjang membuat penampilan makin anggun. Ibunya maju dua langkah setelah berdiri dari duduknya. “Jangan berlagak bermuka dua, Nak!”
            “Apa maksud, Ibu? Ananda tak mengerti,” kata Intan, panik. “Mengapa singgasana sangat ramai? Kena—”

“Diam!” pekik Kalang, singgasana mendadak sunyi—suara-suara bising dari rakyat yang berkumpul di sana langsung terdiam. “Kau mempermalukan keluarga karena bersikap kasar kepada Dayang Suri! Kau mengatakannya dayang berwajah usang dan tengik. Keterlaluan!”

Intan berlari, bersujud ke kaki Ayahnya. “Tidak, Yah! Tidak!” serunya, dia ingin menangis. “Intan tidak melakukan apa pun kepadanya. Jika iya, mohon ampunkan, Yah!”

“Jangan percaya, Yang Mulia.” Suri menatap sedih kepada Kalang, matanya membengkak. Lehernya berwarna biru dan terdapat goresan bekas luka. “Dia telah berbohong!”

Suara sorak mengisi kesunyian, pertanda mendukung perkataan Suri.

“Tolong diam!” hardik Kalang. “Sungguh perilaku kejam! Dayang-dayangku tak pantas diperlakukan seperti budak! Intan, baru kali ini aku melihat sikap burukmu kepada seorang dayang!

Intan menggeleng, memeluk Ayahnya, namun ketika melihat Ibunya menghampirinya, Permaisuri berkata, “Apa kau benar-benar tidak melakukannya? Apa yang kau rasakan semalam? Beritahu kami.”

“Intan Jujur, Bu,” kata Intan, menatap dengan mata berlinang ke Ibunya. “Semalam, Intan merasakan hal aneh pada diri Intan, tapi entah apa itu.” (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

“Sudah pasti dia melakukannya, Yang Mulia!” pekik Suri, satu-satunya suara paling keras. “Lihat”—dia menunjuk lehernya—“bekas ini! Sakit! Aku tak sanggup, Yang Mulia, dengan sikapnya.”

Intan melihat leher Suri. “Tidak! Mustahil!”

Suara sorak banyak berkata: Sudah pasti Putri Intan pelakunya! ; Buktinya sudah ada, untuk apalagi diidentifikasi? ; Beri dia hukuman! Beri!

Dalam kebisingan, Intan baru menyadari bahwa Ayahnya memanggil seorang prajurit tinggi berisi. Bajunya hitam bercampur merah. Sembari memegang tongkat kayu khas prajurit, wajahnya tampak tegas. Namun, firasat Intan kalau setiap prajurit datang, pastilah berbau negatif. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

“Oiho,” peri Kalang sementara Oiho menunduk, “keluarkan anak ini dari sini. Suruh Bibi Suh mengemas pakaiannya.”

Sebelum Intan akan memprotes, Permaisuri berkata, “Ini sudah ketentuan Kejaraan, Nak. Siapa pun yang memperlakukan kasar seseorang tanpa sebab, ia dikeluarkan, sekalipun itu orang yang berderajat tinggi. Maafkan kami.”

“Tidak!” pekik Intan, menangis. “Sungguh, Intan tak melakukan apa—”

“Sudah!” geram Kalang. “Bawa dia ke kamarnya.” Dengan cepat dia menemukan Bibi Suh di antara para kerumunan untuk membantu Intan, yang ternyata sudah menatap gugup kepada Kalang. “Jalankan perintahku! Sekarang!”

Dengan rasa sedih dan kesal, Intan dibawa Oiho ke kamarnya bersama Bibi Suh. Langkah gadis itu terseret-seret. Tangisannya membuat Permaisuri berbalik ke kamarnya.

***

Tidak kurang dari dua jam setelah di singgasana subuh tadi, Intan masih menangis tak henti-hentinya. Dia berdua bersama Bibi Suh, duduk dan mengemas pakaian, walaupun dengan kesal Intan membuang lagi pakaiannya dari tas kainnya. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Bibi Suh berusaha menenangkannya, tapi itu tidak berhasil. Malah Intan memojokkan diri ke tempat tidur, membiarkan Bibi Suh menjalankan perintah Raja Kalang tadi. Tampaknya di luar kamarnya, Intan pasti diperbincangkan di sana-sini.

“Sudahlah, Non,” kata Bibi Suh seraya merapikan dan memasukkan pakaian lagi. “Saya melihatnya sendiri, Non.”

Intan menatap Bibi Suh cepat-cepat, matanya merah. “Maksudnya, Bi?”

“Kemarin malam saya melihat Non Intan berperilaku kasar kepada Suri,” katanya, selesai mengemas. “Non benar-benar menampar dan mencakarnya. Waktu itu Bibi membela, Non, tapi—”

“Mustahil, Bi. Intan memang merasakan hal aneh, tapi jika iya, baru kali ini Intan melakukannya.”

“Baiklah, Non.” Suara Bibi Suh melemas. “Dayang Eli juga melihat kejadian tersebut, Non. Sewaktu itu katanya, Suri diperintahkan mengantarkan roti dan susu ke kamar Non Intan, tapi mendadak Non mengomel kepadanya.”

“Lalu, mengapa lampu kamar Intan tiba-tiba hidup saat Intan bangun?”

“Bibi yang menghidupkan Non,” dia baru saja duduk di samping Intan. “Non dan Suri bercekcok mulut saat itu, tapi tiba-tiba Suri sudah terkapar, dan Non entah mengapa menangis dengan wajah ditutupi bantal.”

“Sudahlah, Bi,” peri Intan. “Mungkin saja Intan menggigau, tapi bagaimanapun juga, alasan ini tidak mungkin diterima.”

“Baiklah, Non. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Apa Bibi bisa ikut dan menjaga Non?”

Intan menyeka air matanya. “Pasti, Bi. Tidak usah, Bi. Bibi sudah ditugaskan di sini. Kalaupun Bibi ikut, pasti masalah akan bertambah besar.” Dia melihat di samping tempat tidurnya ada sesuatu. “Apa itu, Bi? Pasir putih?

Bibi Suh melirik. “Oh, gula pasir, Non. Mirip sekali dengan pasir putih. Nanti Bibi bersihkan, Non. Hmmm … apa perlu Bibi mengantarkan Non sampai ke depan gerbang?”

“Tak perlu, Bi,” saran Intan. “Lakukan saja tugas Bibi. Oh ya, terima kasih Bi telah menjaga dan mengurus Intan selama ini. Tolong bilang ke Ayah dan Ibu kalau Intan selalu merindukan mereka.”

Bibi Suh mengangguk, matanya berkedip terus-menerus pertanda akan meratap. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

***

Suasana saat itu tidak ingin diingatnya lagi—tidak sama sekali. Tapi, entah bagaimana Intan berhasil mengingatnya. Dia tidak mengerti mengapa orangtuanya begitu tega membiarkannya diusir. Apa mungkin karena sudah mendekati umur dewasa?

Saat pergi meninggalkan Kerajaan Kalang, tidak tanggung-tanggung Intan menahan tangisnya—dia menutup mulutnya dengan selendang seraya berjalan menunduk. Gadis itu juga jalan cepat-cepat menuju gerbang, berharap tidak menyapa siapa pun. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Jika dia menggantikan posisi ibunya, dia akan mengubah hukuman ini bagi seluruh rakyatnya. Kalaupun jadi, Intan akan menumbuk prajurit-prajurit yang bekerja terhadap peraturan-peraturan, terutama Oiho. Kesal sekali, sungguh!

Selama diusir, Intan beradaptasi dengan lingkungan liar—lingkungan hutan. Dia berharap tidak ada hewan buas di sekitarnya. Kalau-kalau ada, dia akan menumbuk hewan itu seperti menumbuk Oiho.

Gadis itu beruntung sekali tinggal di sebuah gua kecil yang tidak dalam dan tanpa penghuni—kelelawar pun jarang ada. Dia juga terlindung dari hujan, tapi gadis itu tidur berselimut daun pisang tiga lapis.

Makan dan minum sehari-hari pun dicarinya di tepi sungai—menangkap ikan, memakan buah-buahan yang masak di sekitar sana, dan meminum mata air dekat sungai. Intan pun berharap dia bertemu dengan orang yang sedang berkelana di hutan, tapi sejauh ini belum ada. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Keesokan harinya ketika bangun, cuaca tampak berawan. Petir menggelegar di mana-mana, membuatnya takut dan kedinginan. Di depannya ada sebuah pohon pisang, tapi ada sesuatu yang aneh: sebuah bayangan hitam.

Bayangan itu tidak bisa dikatakan menakutkan sebab bergerak-gerak seolah-olah sedang melakukan apa saja ke pohon pisang tersebut. Juga sosok itu tak menyadari bahwa Intan telah bangun. Apa dia pemalu? Tidak mungkin. Orang pemalu pasti berdiam diri saja alias mengintip dan tidak lasak.

Namun, ketika petir muncul sekali lagi, bayangan itu menghilang disertai sebuah pisang terlempar ke depan Intan. Di ambilnya pisang itu. Untung saja enak, sebab dia lapar sekali pagi itu. Dia berfirasat bahwa sosok itu ketakutan akan disambar petir. Namun selagi hujan belum turun, Intan berjalan ke pohon pisang itu. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Jangan hujan, aku mohon. Perutku masih lapar. Kumohon! Intan membatin.

“Kau tampak lapar, Nak!” pekik seseorang saat Intan memakan sebuah pisang lagi, tapi suara itu menakutkan dan serak. “Mengapa kau berkeliaran di sekitar sini, Cantik?” Dia berjalan kaku ke arah Intan. “Ikutlah denganku.”

Intan bersembunyi di balik pohon, tapi apa daya, sosok itu tiba-tiba berada di belakangnya. Intan sangat terkejut. Wajah sosok itu menyeramkan dan kusut. Kulitnya keriput, matanya berkantong dan sudah kendur, giginya keropos disertai dengan napas tak sedap.

Di tangannya ada sebuah tongkat kayu kokoh dengan ujung yang tajam. Bajunya sangat lusuh, terbuat dari kain serba hitam dengan sisi berantakan. Rambutnya seluruhnya keriting, bau amis juga. Pokoknya, tidak ada yang menarik dari nenek itu.

“Pergi!” pekik Intan, mundur cepat-cepat tapi akhirnya terjatuh. “Jangan dekati aku!”

“Jangan takut padaku, Nak!” kata nenek itu. “Aku baik-baik saja kok. Bahkan, aku sering menolong orang yang tersesat.”

Intan mencoba berdiri. Berhasil, tapi ketika hendak mengambil tasnya, nenek itu entah mengapa cepat sekali menyentuh bahu kanannya. Intan langsung pucat pasi, matanya membesar, namun dia langsung berbalik dan mendorong nenek itu. Anehnya, nenek itu malah tetap berdiri, mungkin karena tongkat kayunya. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

“Siapa kau?” tanya Intan. “Orang yang tersesat takkan berani menerima pertolonganmu, Nek. Aku saja takut, apalagi yang—”

“Sssttt!” bisik nenek itu. “Perkenalkan, namaku Lampir. Panggil saja Lampir. Dekati dan ikutlah bersamaku. Jangan takut, Nak. Tampangku memang begini, tapi kau jangan berpikiran yang aneh dulu tentangku.”

“Biarkan saja aku di sini!” teriak Intan, suaranya membuat burung-burung di sekitarnya beterbangan. “Nenek tampak kebingungan. Mendingan nenek ke sungai dekat sini. Banyak pemandangan indah di sana. Pergilah, Nek!”

Lampir maju selangkah, lalu menjentikkan jarinya. “Sudah terlambat, Nak.”

Intan terjatuh. Pingsan. Lalu, dia dan Lampir tiba-tiba berada di suatu tempat yang tidak bisa dikatakan seram. Saat itu juga Intan terbangun mendadak. Dia pun mengernyit.

“Selamat datang!” kata seorang laki-laki tua, sedang mengaduk sesuatu di tabung keramik bersama seorang perempuan sedikit lebih muda dibandingkan Lampir.

“Siapa kalian? Di mana ini?! Biarkan aku pergi!” rintih Intan, namun pegangan Lampir sangat keras sampai-sampai Intan merasakan sakit.

“Perkenalkan, Gadis Cantik,” kata sosok laki-laki tua, “namaku Birawa. Marilah duduk dengan manis, Nak. Yang Mulia, tampaknya dia sangat lapar pagi ini.”

“Diam kau, Birawa!” kata perempuan satu lagi. “Namaku Albin, Nak. Aku yakin jampi-jampi itu sebentar lagi—”

“Tutup mulutmu, Albin!” pekik Birawa. “Kau membuat kebocoran! Dasar!”

Albin mendekatkan wajahnya ke Birawa. “Bocor apa maksudmu, Beloh? Tak ada atap di sekitar sini!”

Birawa menarik dagu Albin, lalu didorongnya ke atas sehingga wajah mereka berdua sejajar. “Bukankah kau yang begitu, Albin? Wajah tengik! Mulutmu itu—”

“Eh, dasar mulut panjang! Tadi kau ingin mencoba guna-guna itu, ‘kan, Birawa?” celoteh Albin, lalu melirik Intan. “Putri Cantik, mengapa kau tersesat di sini? Yang Mulia, lihatlah dia yang meronta-ronta seperti orang kelaparan.”

“Diam kalian!” teriak Lampir. “Berdebat tak ada tujuan! Jangan bersikap semena-mena kepada gadis ini. Sekarang, cepat buka guna-guna itu! Gara-gara kalian, hal ini jadi bocor!”

“Ampunkan kami, Yang Mulia!” Albin memohon sementara Birawa malah asik mengaduk guna-guna itu. “Siapa yang membukanya? Jangan sampai mataku meneteskan air mata, Yang Mulia.”

“Tidak ada air mata yang diteteskan, Albin!” pekik Birawa. “Air mata keluar dengan sendirinya sesuai perasaan, Dungu!”

“Mulut panjang ini tak bisa berhenti mengoceh! Huh!” seru Albin, lalu berlari mengambil guna-guna yang diaduk Birawa. Guna-guna itu tampak telah berasap, ditambah sedikit cairan. “Aku saja yang melakukannya! Lepaskan!”

“Tangan kau suka ceroboh, Cebol!” pekik Birawa, mereka berebut. Memang, Albin lebih pendek daripada Birawa, tapi entah kenapa mereka sama-sama beloh.

Intan memanfaatkan momen ini untuk kabur karena Lampir malah pergi memarahi dua sejoli belo itu. Alih-alih Lampir malah terimbas dan berada di pangkuan Intan karena didorong Albin saking kesalnya. Jika kau jadi gadis itu, rasanya seperti menerima air liur gajah. Menjijikkan! (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

“Kalian sama saja cerobohnya!” hardik Lampir seraya berdiri dan jalan cepat-cepat ke mereka berdua. Tangan nenek itu mengendalikan tabung berisi guna-guna, hingga pada akhirnya berhenti tepat di atas Intan. “Kerja itu yang bagus dong!”

“Yang Mulia, engkau sungguh hebat!” puji Birawa. “Lakukan!” Dia dan Albin bertepuk tangan dan loncat, seolah-olah momen itu adalah sebuah atraksi humoris.

Intan tahu mereka penyihir. Dilihat dari penampilan Birawa dan Albin yang sama-sama berpakaian cokelat gelap dengan sisi berantakan, diketahui kalau mereka adalah anak buah Lampir (tapi mengapa Albin berani-beraninya mendorong Lampir?). Namun, suara tawa mereka kini membuat Intan mencoba berdiri, tapi ….

“Bereskan semuanya!” suruh Lampir. “Ikuti aku dan jangan tersesat!”

Intan tak tahu dia di mana dan hari apa itu, tapi dia menebak saat itu adalah petang hari—langit sudah tampak mulai gelap dari sebelumnya. Langit lebih cerah dari sebelumnya.

Gadis itu sedih—bahkan, hidupnya makin menderita—karena tubuhnya menghilang. Suaranya tidak keluar sama sekali. Anehnya, dia berbulu. Kini, dia menjelma menjadi seekor burung, dengan paruh lumayan besar dan ditambah paruh—bukan paruh, tapi lebih mirip paruh—berwarna merah yang seperti jambul. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Dia berkicau setiap hari. Untuk terbang pun susah, tapi akhir-akhir ini Intan makin lihai. Kicauannya membuat suasana hutan jadi ramai. Mencari makan pun kini tak sesusah dulu, tapi dia ingin mencari penyihir-penyihir nakal tadi untuk menumbuk mereka seperti ingin menumbuk Oiho. Namun apa daya, mereka menghilang.

Beberapa hari setelah itu, dia hinggap di sebuah batang pohon yang patah, yang tergeletak di rumput-rumput tinggi. Namun, saat hendak terbang, tubuhnya langsung terjatuh dan terperangkap sebuah jebakan. Percuma meloloskan diri, jaring-jaring itu sudah membekukannya.

Hingga seorang pria tinggi dan kurus menghampirinya. “Bulu yang halus dan berwarna-warni. Matamu juga berbinar seperti rembulan di mulut laut. Kicauanmu pun membuat jaring-jaringku tergoda. Tapi sayang, kau terkena jebakanku. Mari kita pulang! Ha!”

Seperti biasa, setiap pemburu mendapat buruannya pasti dikurung. Intan tak suka diperlakukan seperti itu. Badannya terlalu besar, apalagi kalau dia membentangkan sayapnya, sampai-sampai nantinya—bisa jadi—sangkarnya hancur dan bengkok. Tidak, gadis itu tidak menganggap itu sebuah candaan lagi.

Entah mengapa berada di perangkap membuatnya terus kantuk, namun pada suatu ketika dia melihat kunci sangkarnya tergeletak tepat di depan sangkarnya. Pria itu pasti tak menyadari bahwa burung itu benar-benar sebuah jelmaan. Beruntung saja—sangat beruntung! (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Keesokan harinya setelah pria itu malah sibuk mencari kunci sangkarnya, Intan berhasil keluar dari sangkar dan tiba-tiba saja menjelma jadi manusia. Secarik kertas muncul dari saku bajunya. Berbunyi:

Jangan asal gunakan sihirmu, Nak! Jika sudah sadar kalau kamu penyihir, ikut dengan kami! Tubuh manusiamu hanya muncul saat petang dan pagi sekali, selain itu tidak, Cantik.

Intan tak mau cepat-cepat pergi dari rumah pria itu. Jika dia pergi, pasti lebih parah lagi. Entah dengan percaya diri, Intan tak sengaja melambaikan tangannya. Santapan berbagai makanan dan minuman pun muncul di meja makan—baunya sangat menggoda.

Tak berapa lama setelah itu, pria itu pulang dan terkejut seraya melirik sana-sini, mencari-cari kalau-kalau ada penyusup. Namun, entah mungkin karena rasa lapar, pria itu memakan hidangan tersebut. Dia pun tidak menyadari sangkar burung—sangkar Intan—hilang setelah Intan ikut bersembunyi dengan sangkar tersebut, mungkin karena terlalu capek atau lapar. Setelah itu, pria itu dengan mulas pergi ke tempat tidur tikar di atas bambu, lalu tertidur pulas. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Paginya—sangat pagi sekali—Intan berubah wujud lagi jadi manusia setelah terbangun dan keluar dari sangkar. Namun, tak disangka pria itu terbangun dengan mata mengernyit. Pria itu menyadari bahwa sangkarnya terbuka, ditambah Intan sedang memegang pintunya.

“Siapa kau?” tanya pria itu, terkejut setelah mengernyit. “Ke mana burung itu?!”

“Ampunkan aku, Tuan! Aku—”

“Ternyata kau pencurinya?” tanya pria itu seraya berdiri was-was. “Kembalikan!”

“Bukan aku, Tuan! Aku bukan pencuri. Aku adalah putri dari Raja Kalang dan Permaisuri,” beritahu Intan. “Mereka mengusirku.” Nada suaranya melemah, serta kepalanya menunduk.

“Pantas saja kau mencuri burung itu untuk dijadikan santapan, bukan?” Pria itu menuduh. “Kembalikan ia! Aku suka dengannya!”

Intan tercengang dengan perkataan terakhir dari pria tinggi dan kurus itu. “Tuan, engkau telah menyelamatkan jiwaku. Jujur, akulah burung yang engkau maksud.”

“Burung Tingang?” tanya pria itu. “Ya, kau burung Tingang itu? Sungguh? Tidak ada makhluk jelmaan di sini. Kau berbohong!”

“Dengarkan aku dulu, Tuan!” pekik Intan, tak sabar. “Anda harus menghormati seseorang dan mendengar penjelasan dulu. Jangan asal tuduh dulu dong.”

Pria itu duduk dan memberi ruang di kasurnya supaya diduduki Intan. “Baiklah, duduk dan bergabung bersamaku. Sebelumnya, namaku Dohong.”

Ketika Intan duduk, dia berperi, “Nama saya Putri Intan …. Ayahku mengusirku tiba-tiba, Tuan. Aku dituduh melakukan hal buruk pada seorang dayang—Dayang Suri. Juga, dua hari lalu tiga orang penyihir menyihirku menjadi burung buruanmu.”

“Jahat sekali,” kritik Dohong. “Aku akan membantumu, Intan. Namun, aku minta maaf jika telah menjebakmu. Selama aku berburu, baru kali ini ada seekor burung cantik seperti kau. Omong-omong, aku baru tahu para penyihir berkeliaran lagi.”

Intan memilin rambutnya. “Tidak apa, Tuan. Berterima kasih kepada para penyihir itu karena mereka membuatmu berhasil menjebak burung nan indah.”

“Mengapa mereka mengutukmu?”

“Mencoba apakah jampi-jampi tersebut berhasil atau tidak, Tuan,” beritahu gadis itu. “Tuan Dohong, akulah yang menyiapkan hidangan semalam untukmu. Engkau tampak lapar. Dan, entah mengapa kini aku memiliki kekuatan sihir semenjak dikutuk menjadi burung Tingang.”

“Oh, tidak apa, Intan,” katanya. “Kalau bisa, mari kita berdua—ya, kita berdua—mencari tempat persembunyian penyihir itu, lalu atur rencana.”

Intan tersenyum. “Kedengarannya bagus. Baiklah. Omong-omong, dari mana Tuan Dohong tahu bahwa penyihir sudah punah?”

“Zaman dahulu, para penyihir suka sekali membantu para pemburu akan keberhasilan hewan buruannya, tapi kami—para pemburu—mengira mereka sudah punah karena tak pernah muncul lagi.” Dohong menatap jendela saat menjelaskan. “Tapi, ingat ya, aku bukan bagian dari mereka—aku berburu dengan usahaku sendiri tanpa pertolongan dari penyihir.”

Saat itu juga, matahari memperlihatkan sinar mentarinya. Lalu, Intan berkata, “Baiklah, Tuan, mari kita pergi.” Walaupun mereka baru berkenalan, mereka tampak sudah mulai akrab. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Menurut Intan, sudah sekitar empat jam dia bersama Dohong mencari tempat tinggal para penyihir itu. Entah keberuntungan apa hari itu, gadis itu menemui dari udara tempat persembunyian mereka—gubuk lusuh dan menyeramkan.

Dari luar, suara-suara letupan terdengar agak keras, seolah-olah para penyihir itu sedang mencoba ramuan baru lagi—jangan ada lagi, menyakitkan! Namun, ketika mereka mencoba mengintip, tidak ada seorang pun.

“Mereka mencari mangsa,” terka Dohong. “Ayo masuk.” Dohong menutup pintu.

Bisa jadi apa yang dikatakan Dohong benar. Intan setuju.

Di dalam, barang-barang terlihat rapi pada raknya—botol kaca, tabung kaca, dan berbagai macam racikan berupa tumbuhan. Namun, lantai gubuk itu berupa tanah. Tapi ketika Intan melirik dekat guci kayu sumber letupan itu, sampah-sampah berserakan jadi satu gundukan—kotor sekali tempat ini. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Guci itu terisi penuh dengan air. Tapi, di dalam guci itu bukan ramuan, melainkan sebuah citra untuk memantau dan menampilkan momen-momen yang terjadi saat ini ataupun yang lalu. Kini, citra itu menampilkan citra masa lalu: seorang wanita sedikit tua berbincang bersama penyihir—Lampir?—di tengah hutan.

“Tolong bantu aku, Lampir,” kata wanita itu. “Aku butuh bantuanmu. Buat rencanaku berhasil.”

“Rencana apa?” tanya Lampir. “Kalau kau ingin aku membantumu, beri aku harta-harta yang ada di tempat tinggalmu untuk diserahkan kepadaku. Kau setuju?”

Wanita itu mengangguk. Lalu, Lampir menggosokkan telunjuk dan jempolnya ke dalam mulut wanita itu, seolah-olah sedang menaburkan garam. Sekitar beberapa detik, tidak ada reaksi darinya.

“Apa saja yang kau katakan, semua orang mengikuti,” beritahu Lampir. “Tenang saja. Sekarang, pergi dan tinggalkan aku, lalu bawa apa yang aku inginkan esok hari! Jika tidak, lihat saja kedepannya.”

Wanita itu pergi, wajahnya tak tampak. Namun, tiba-tiba citra itu meledak setelah pintu gubuk itu terbanting terbuka—tiga penyihir itu datang! Dohong dan Intan panik. Para penyihir awalnya tidak menyadari, namun tiba-tiba saja—mungkin terkejut—Lampir menjatuhkan rak-rak di sekitar tempat dua sejoli itu bertahan diri. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

“Suri mengingkari janjinya?” tanya Birawa. “Dayang macam apa dia ini? Hanya memanfaat—”

“Diam!” pekik Lampir. “Ada penyusup!”

Dengan cepat Intan melemparkan tabung kaca ke kepala Albin, alih-alih kena juga. “Ternyata, kalian bekerja sama dengan dayang penghianat itu?! Dasar! Untuk apa kalian membantunya? Hei, berpikirlah sebelum bertindak!”

“Bah!” pekik Lampir, sementara Birawa membantu Albin berdiri. “Ia memang penghianat, tapi tampaknya kau bersedia bergabung bersama kami hari ini. Dan siapa pria kurus ini? Pasanga … oh tidak! Albin, Birawa, bunuh mereka!”

Hanya Lampir yang bekerja, entah kemana dua penyihir belo itu. Awal yang bagus. Intan dengan sembarang mengambil sebuah ramuan dari tabung kaca di rak lain, lalu melemparkannya kepada Lampir, tapi memelesat.

Sementara Dohong pergi untuk mengurusi dua penyihir belo itu. Kini, Intan mendorong Lampir dengan pelan, tapi menghasilkan reaksi yang mengherankan—Lampir terdorong kuat, terjatuh, dan terbatuk-batuk.

Kini, malah Dohong yang mengikuti. Pria kurus itu terjatuh dan menghimpit Lampir. Ternyata, dua sejoli belo itu yang melakukannya. Kini mereka tertawa terbahak-bahak di ambang pintu. Namun, adanya rencana yang bagus: Dohong menusukkan pisau belati ke dada Lampir. Penyihir itu berubah jadi abu. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Dua sejoli belo itu masih tertawa, tapi berhenti dan terkejut ketika tahu bahwa Intan membawa dua buah ramuan berwarna merah—gadis itu yakin warna merah adalah warna ramuan pembawa sial. Dua sejoli belo itu basah kuyup setelah Intan mendorong dan menyiram mereka.

“Senjata makan tuan, bukan?” Intan melemparkan dua botol berisi ramuan tadi kepada mereka, berujung pecah disertai munculnya kepulan abu.

Dohong memegang tangan Intan, gadis itu pun berbalik. Namun, Dohong cepat-cepat berperi, “Ayo kita ke Kerajaan Kalang. Aku tahu rahasia kutukanmu menjadi burung Tingang. Ayo!”

Selama perjalan menuju Kerajaan Kalang, Intan tiba-tiba berubah menjadi burung Tingang, tapi dia tidak terbang, melainkan berada di pundak Dohong. Untung saja Kerajaan Kalang tak terlalu jauh dari persembunyian penyihir-penyihir belo itu—huh! Dan, menurut Intan, para penyihir berada dekat dengan Kerajaan tersebut agar mudah menyekap Suri akan janjinya.

“Anda siapa?” tanya seorang prajurit—lebih tampan dan tegas daripada si Oiho—setelah Dohong mengetuk pintu. “Kau pembur—”

“Sssttt!” seru Dohong, napasnya tidak teratur. “Aku capek. Raja Kalang … ya, ia telah memesan seekor burung Tingang! Aku pemburu, tapi ada kabar lain untuknya dari anaknya … Putri Intan.”

Prajurit itu malah pergi sembari menutup pintu masuk Kerajaan. Namun, sekitar lima menit, pintu itu terbuka kembali dan dia muncul lagi. “Baiklah. Masuk.”

Tak perlu berlama-lama, burung Tingang terbang ke singgasana sementara Dohong berlari kecil mengikutinya seraya melihat sekeliling. Rakyat-rakyat di sana malah termangu akan kehadiran mereka. Terlebih lagi membawa seekor burung Tingang—burung berukuran besar. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Sesampainya di singgasana, Raja Kalang sudah berdiri tapi langsung mengernyit ketika melihat Dohong dan burung Tingang di bahunya. Intan juga melihat ibunya, Permaisuri. Namun, dari balik tirai menuju perkumpulan para dayang, dia hanya melihat Bibi Suh.

“Aku tidak memesan burung atau apa pun itu,” kata Kalang. “Apa tujuan kau kemari, Pemuda?”

Dohong maju selangkah. “Sebelumnya, nama saya Dohong. Maafkan saya, Baginda,” katanya. “Memang, Baginda tidak memesan sesuatu kepada saya, tapi saya mohon maaf. Berita lebih penting untuk Anda: Baginda telah difitnah.”

Untung saja singgasana sepi sekali waktu itu—hanya Raja Kalang, Permaisuri, Prajurit Oiho di samping Kalang, dan Bibi Suh. Namun, tiba-tiba Permaisuri berjalan ke arah Dohong dan Tingang lalu berperi, “Maksudmu? Tunggu, untuk apa hewan ini kau bawa?”

“Burung ini adalah Putri Intan,” peri Dohong, bagi yang tidak mengetahui informasi tersebut, malah terkejut. “Suri memfitnah kalian. Dia memakai guna-guna.”

Tak disangka, Bibi Suh malah menghilang ketika Intan melihatnya lagi. Tapi, tiba-tiba ada suara dari tempat persembunyian dia tadi—suara teriakan seperti meronta-ronta. Ternyata, Dayang Suri malah ditarik dan dipaksa Bibi Suh. Sementara ditarik, Dayang Eli serta dayang-dayang lainnya mengikuti. Baru kali ini Intan melihat Bibi Suh begitu, dan benar apa kata Bibi Suh: Setiap masalah ada jalan keluarnya(sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

Permaisuri tampak geram, lalu berjalan ke arah Suri seraya berkata, “Dayang Suri … di depan kami kau tampak patuh, tapi di belakang seperti pemfitnah. Beri fakta sebenarnya mengapa kau memfitnah kami saat kejadian hari itu.”

Dayang Eli—dia adalah kawan akrab Dayang Suri, yang pendiam dan pemalu—mengangkat tangan, “Maafkan aku, Suri. Sudah berkali-kali aku bilang kalau jangan lakukan perbuatan ini. Yang Mulia, dia iri terhadap kecantikan dan kelebihan Putri Intan, makanya dia menemui para penyihir—”

“Dasar!” hardik Kalang, matanya membesar, napasnya tak teratur. “Berani-beraninya kau menemui para peyihir dan memfitnah kami dengan jampi-jampi! Baru kali ini dayang-dayangku melakukan ini!”

“Itu tidak benar, Yang Mulia!” seru Dayang Suri, meronta dan menangis. “Mereka berbohong! Para penyihir sudah mati!”

“Tidak!” pekik seorang wanita—Putri Intan, sudah berubah wujud dari burung Tingang. “Para penyihir itu masih hidup! Mereka yang mengutukku jadi burung Tingang.”

“Mengapa kau tak menjadi burung Tingang lagi?” tanya Dayang Suri, menangis lagi. “Anak itu pembohong! Keluarkan dia, Yang Mulia!”

Intan tersenyum. “Kali ini sudah senjata makan tuan, Dayang Suri. Kata Dohong, pria ini, sewaktu Lampir—penyihir itu—mengatakan ‘pasangan’ yang sebenarnya kata itu terputus olehnya, itu adalah sebuah tanda supaya kutukan ini hilang—”

“Ya!” seru Dohong. “Itulah makanya penyihir-penyihir itu menahan kami untuk sampai ke sini.” Lalu, Dohong menceritakan apa yang terjadi selama dia bersama Intan hingga sampai ke Istana. Selama bercerita, Dayang Suri terus menunduk dan menangis lagi—bagus sekali, tangisilah sebuah penyeselan!

Intan baru sadar bahwa pagi-pagi ketika dia hendak pergi, dia melihat kumpulan pasir putih yang dikatakan Bibi Suh adalah gula, ternyata adalah ramuan yang diubah menyerupai gula. Entah mengapa waktu itu, dia dan Bibi Suh tidak sadar. (sumber: http://www.amaldoft.wordpress.com)

“Diam kalian semua!” pekik Dayang Suri. “Akulah yang—”

“Tutup mulutmu, Suri!” hardik Kalang, singgasana langsung sunyi. “Sesuai peraturan—”dia melirik Prajurit Oiho, namun Kalang dan Prajurit itu mengangguk setuju—“pemfitnah akan dihukum di penjara bawah tanah, bergabung bersama tawanan lainnya. Jalankan, Oiho!”

Dayang Suri berusaha melepaskan pegangan Oiho, namun tampaknya tak pernah berhasil. Kini, kutukan itu menghilang. Awalnya singgasana masih sepi setelah Suri dibawa, tetapi hal itu digantikan dengan kabar bahagia.

“Pria ini telah menyelamatkan anak kita, Istriku,” kata Kalang. “Aku memutuskan kalau dia kita nobatkan menjadi pewaris tahta Kerajaan Kalang. Bagaimana?”
            “Baiklah,” kata Permaisuri, Dohong tampak bahagia. “Aku setuju.”

Kini, tidak ada lagi fitnah. Dohong dan Intan hidup bahagia di sana. Bahkan, gara-gara kutukan itu, banyak menjuluki mereka Dohong dan Tingang.

—SELESAI—

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s